Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Tuesday, April 15, 2008

A Special Morning

Friday, 15 February 2008

Setiap hari adalah waktu yang sangat berharga bagi aku, Haqqy, dan Malika. Sayangnya waktu berlalu begitu cepat,meski tetap ada 24 jam sehari tapi ternyata masa cuti yang sudah lewat belum cukup bagi kami untuk mengisinya dengan berbagai hal yang bermakna. Sampai hari ini masa cutiku tinggal satu bulan sembilan hari dan aku harus kembali kerja tangal 27 Maret depan. Semoga tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki segala kekuranganku sebagai ibu bagi HQ sepanjang waktu yang telah aku tinggalkan.

Mulai kemarin aku membuat jadwal khusus untuk HQ, belajar bersepeda roda dua yang sama sekali belum dia kuasai. Untuk keterampilan yang satu ini HQ memang sangat kurang. Jangankan roda dua, roda tiga pun dia tak mau mencoba mengayuh pedalnya. Dia lebih memilih berjalan sambil naik di atas dudukannya. Dulu ketika mengetahui dia tak mau mencoba, kami masih berharap dia mau mencobanya untuk sepeda roda duanya kelak di kemudian hari. Tapi ternyata saat ayahku, kakek HQ, membelikannya sebuah sepeda second, lengkap dengan roda latihannya, yang lumayan masih bagus menurutku, dia tetap menolak belajar. Dia malah lebih suka menuntunnya sambil berlari. Lucu sekali memang, begitu kami berkomentar saat itu. Kami sekeluarga terus memotivasi dia untuk belajar mengayuhnya tapi kami tak pernah berhasil. Pelan namun pasti hal ini terabaikan. Hingga kami bertiga, HQ, suamiku, dan aku, pindah ke rumah kami sendiri pun, kami belum begitu tersadar jika hal ini bisa jadi kendala baginya. Hanya sesekali saja kami mengingatkannya tanpa pernah meluangkan waktu khusus untuk melatihnya.

Setahun kemudian, ketika tiba masa penerimaan rapor sekolah HQ (TK A) tanggal 23 Januari 2008 kemarin, giliran kami yang benar-benar diingatkan. Ustadzahnya menuliskan pada segmen perkembangan fisik motorik "... Mas Haqqy belum mampu bersepeda roda dua ....". Reaksi pertama kami adalah menunjukkan dan membacakan kutipan rapor itu pada HQ dan dia tersenyum malu-malu dengan manja mengakuinya. Saat itu aku dan suami belum juga berpikir untuk melatihnya secara intensif. Kami berempat sedang melewatkan liburan HQ di rumah orang tuaku waktu itu. Beberapa hari kemudian aku baru terpikir untuk membawa sepeda roda dua HQ yang terlantar di gudang belakang rumah itu ke rumah kami, tentu saja harus dibersihkan terlebih dahulu. Setelah menyampaikan keinginanku itu pada ayahku, beliau kemudian berinisiatif untuk memperbaikinya sekalian dan ternyata memang ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki karena tak terawat sekian selama lebih dari dua tahun. Akhirnya kami memutuskan untuk membawanya ke bengkel dekat rumah. Dan, sepeda itu kini nampak lebih baik dengan sentuhan cat baru di bagian depannya. Sepertinya HQ tak begitu tertarik seperti harapanku dan ayahku. Dia nampak gembira sesaat, menuntun dan mencoba menaikinya di jalanan depan rumah sebentar lalu membawanya pulang dan meniggalkannya tergeletak lagi. Keesokan harinya, dengan dukungan ayah, ibu, dan aku, dia mau mencoba kembali. Kali ini dia bersama Oya, teman sebayanya yang sudah terlebih dahulu bisa meski dulu mereka memulainya bersama dengan sepeda roda tiga mereka masing-masing. Perkembangan yang cukup signifikan, menurutku, meskipun waktu berlatih mereka hanya sebentar dan kemudian HQ meninggalkan sepedanya di mana pun dia bermain. Aktifitas baru itu berlangsung hanya beberapa hari selama kami liburan. Bagaimanapun responnya, aku merasa senang karena paling tidak dia sudah memulai "langkah pertamanya".

Sepulang kami dari liburan itu, langkah pertama HQ sempat terhenti. Beberapa hari setelah kepulangan kami, aku menyampaikan pada suamiku bahwa kami akan mencoba berbagi waktu untuk anak-anak. Aku memintanya untuk meluangkan waktu paginya untuk mendampingi HQ belajar sepeda sementara aku merawat bayi kami, Malika. Namun, mungkin kesibukan dan kelelahannya akhir-akhir ini membuat dia kadang lupa melakukannya. Sadar atau tidak, aku dan suamiku harus mengakui bahwa ternyata kami sering terlena oleh kesibukan kami masing-masing. Sedikit sekali waktu yang kami punya untuk HQ. Apalagi untuk mendampinginya dalam beberapa aktifitasnya. Ironis sekali. Maafkan bunda, sayang. Selalu ada esok untuk setiap asa. Kemarin aku mencoba mengingatkan suamiku kembali akan hal itu dan alhamdulillah dia memahaminya dan semoga menjadi awal yang baik bagi kami; aku, mas Yanoe, HQ, dan Malika.

Seperti kemarin, pagi hari setelah sholat shubuh, mas Yanoe membangunkan HQ untuk bersih diri dan mulai berlatih mengendarai sepeda roda duanya sementara aku merawat Malika. Awalnya HQ nampak ogah-ogahan namun akhirnya dia bangun juga. Sepertinya memang harus memulai kembali dari awal. Mendengar kata sepeda baginya seperti beban. Dan, ternyata benar ketika dia mulai belajar mengayuh sepedanya dengan menggunakan roda latihan yang tinggal sebelah kanan, banyak sekali keluhan dari bibirnya yang mungil itu. Hanya beberapa meter saja sepanjang jalan di depan rumah nampaknya dia merasa tidak nyaman. Tak lama kemudian ia pulang dengan muka masam. Ketika aku tanya suamiku apa yang terjadi, dia bilang HQ capek. Dan, dengan wajah hampir menangis HQ pun mengeluh capek. Kami mungkin tidak bersikap arif ketika kami memberi gambaran semangatnya ketika dia bermain dibandingkan dengan ketika dia belajar bersepeda. Sebagai akibatnya dia malah menangis dan ngambek. Sepertinya belajar bersepeda adalah beban baginya. Aku dan suamiku hampir kehilangan ide bagaimana membuatnya tertarik untuk belajar bersepeda. Mulai dari cerita hingga iming-iming hadiah. Belum ada yang berhasil. Kami putuskan untuk memulainya lagi keesokan harinya, pagi inilah saatnya.

Semalam aku telah membuat kesepakatan dengan HQ bahwa setiap pagi seusai bangun tidur dan bersih diri adalah waktu baginya untuk berlatih bersepeda. "... Aku mau sama bunda ....", dia mengajukan syarat bahwa pagi ini giliranku yang mendampinginya. Aku menyetujuinya dan pagi ini pun aku membangunkannya. Kali ini tak sesulit kemarin. Sempat dia berusaha menolak tapi aku ingatkan lagi ia akan kesepakatan kami semalam. Sekitar jam lima lebih, kami keluar rumah. Hari masih agak gelap. Aku bukakan pintu pagar dan ia menuntun sepedanya keluar. Aku menentukan rute yang akan kami lewati, satu putaran setengah blok perumahan tempat kami tinggal. HQ mulai mengayuh sepedanya dengan bertumpu pada roda latihan yang tinggal sebelah kanan sehingga sepedanya miring ke kanan juga. Mengayuhnya pun setengah-setengah dengan menggunakan kaki kirinya. Aku biarkan saja dia melakukan tahapan ini meski mungkin tak lazim. Sejak kecil memang HQ cenderung lebih memanfaatkan kaki kirinya untuk beberapa gerakan yang memerlukan kekuatan lebih sementara orang lain menggunakan kaki kanan mereka. Menurutku tak masalah asal dia berhasil melakukannya. Bersepeda pun demikian. Lagi pula pagi ini aku hanya ingin mengajaknya untuk merasakan bahwa bersepeda itu tak sesulit yang dia bayangkan dan bahwa dia pun mampu melakukannya dengan baik suatu saat nanti. Sepanjang jalan yang kami lewati, banyak sekali celoteh khasnya yang seringkali menggelikan dan bahkan kadang sengaja mengalihkan perhatianku dari acara latihan bersepeda kami pagi ini. "...pantatku sakit loh, Nda.", "Aduh, kakiku sakit loh....", beberapa kali keluhan keluar dari mulutnya ketika aku membetulkan posisi kakinya atau menunjukkannya cara yang semestinya tapi aku terus mengingatkannya untuk tetap bersemangat. HQ nampak merasa bisa mengayuh sepeda itu dengan caranya. Rasa senangnya bisa terbaca dari mimik dan celotehannya. Ini membuatku merasa lega. Dia tak nampak lagi terbebani dengan aktifitas yang satu ini.

HQ terus berusaha mengayuh setengah-setengah sepedanya meski terseok-seok dan miring ke kanan karena roda latihan yang menjadi tumpuhannya tinggal sebelah dan harus menahan berat badannya yang lumayan, kurang lebih 32 kg. Dia nampak antusias sekali dan merasa berhasil karena kami sudah melalui tiga perempat putaran yang telah aku tentukan. Sesekali kami berhenti atau menepi karena ada mobil atau pengendara sepeda motor yang melintas. Dalam hati aku bersyukur aku dan HQ bisa melewati pagi ini bersama. Kegembiraanku hari ini semoga menjadi kegembiraan HQ juga.

Tinggal seperempat putaran lagi menuju rumah, HQ nampak lelah tapi tak aku dengar keluhan capeknya. Sayangnya suasana pagi ini ternoda ketika kami melintas di depan sebuah rumah. Seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil keluar untuk mengantarkan anak tertuanya naik ke sebuah mobil antar jemput. Aku tidak mengenal ibu itu karena aku termasuk orang baru di perumahan ini dan nampaknya dia cuek saja. Aku terus memandu HQ mengayuh sepedanya hingga sampai pada jarak sekitar lima meter arah meninggalkannya ketika aku mendengar ucapannya yang keras, "Hi hi ... itu loh sepeda roda tiga. Rodanya tinggal satu." Aku tak begitu memperhatikannya dan terus mendampingi HQ ke arah semakin menjauh. Begitu kami melewati kira-kira dua rumah dari tempat ibu itu berdiri, tiba-tiba terdengar suaranya lebih keras lagi dengan nada yang terdengar tidak enak di telinga. "Kakinya diturunkan satu gitu loh,mas.", "Kaki kirinya diturunkan.", "... kalo gitu ga bisa-bisa.", "... itu sepedanya miring ke kanan, kebesaran badan.", dan masih beberapa kalimat lagi yang aku tak ingat betul. Mungkin maksud orang ini baik tapi caranya kurang tepat apalagi sambil teriak dari jarak jauh begitu. Dari tempat aku dan HQ berdiri, aku memberitahunya sambil tersenyum, "Anak saya memang belum bisa dan masih bisa menggunakan kaki kirinya saja." Aku pikir dia mengerti maksudku dan sadar akan sikapnya tapi ternyata dia malah mengulang satu atau dua kalimat yang senada. Akhirnya aku dan HQ berlalu. Ada rasa kesal dalam hatiku pada ibu itu dan tak sadar itu mempengaruhi caraku membimbing HQ. Cepat-cepat aku mengajak HQ berlalu dan menyelesaikan rute yang tersisa namun tiba-tiba kata-kata HQ menyadarkanku,"Hei hei sebentar Bunda, aku masih semangat." Astaghfirulloh, maaf ya HQ, bunda yang salah terlalu terpengaruh omongan ibu itu tadi. Sejurus kemudian aku kembali fokus pada latihan HQ hari ini. Aku merasa bersalah menodai kegembiraan kami pagi ini. Sementara itu, dengan wajah ceria dia tetap berusaha mengayuh sepedanya yang terseok-seok dengan caranya yang menurut orang lain aneh hingga sampai depan rumah kami. Perasaan puas jelas tergambar dari sikapnya ketika turun dari sepedanya dan menuntunnya memasuki garasi rumah kami.

Pagi yang luar biasa bagiku. Banyak hal yang aku pelajari pagi ini; kebersamaan dengan HQ dan penerimaan yang tulus. Thanks Alloh for this special morning.

0 comments: