Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Thursday, April 17, 2008

Monitor: Piranti Tak Kasat Mata di Kepala

Apakah anda pernah belajar bahasa lain selain bahasa Indonesia? Jika pernah, maka pasti anda pernah menemui kendala sebagaimana orang mempelajari hal baru dalam hidupnya. Beberapa kendala akan muncul bertahap sesuai dengan tingkat kesulitan masing-masing tahapan belajar. Mulai dari level yang paling dasar, menengah , hingga mahir sekalipun, seorang pembelajar bahasa masih akan menjumpai kendala-kendala yang berkaitan dengan tingkat penguasaannya.

Pada level dasar, seorang pembelajar bahasa mulai mengenal bunyi bahasa, cara pengucapan dan pengenalan kosa kata secara visual maupun audiotorial dan tak jarang pula melalui aktifitas kinestetik. Pada fase ini juga, mulai diperkenalkan teori-teori dasar, seperti tata bahasa, yang dipergunakan untuk memproduksi kalimat-kalimat dalam bahasa yang dipelajari. Pada level-level berikutnya, penguasaan materi-materi ini akan meningkat dan berkembang seiring dengan bertambahnya input yang dia terima. Sebagai outputnya, seorang pembelajar bahasa akan dapat memproduksi kata-kata atau kalimat bahkan sebuah discourse melalui keterampilan mendengarkan(listening), berbicara(speaking), membaca(reading), dan menulis(writing). Proses output ini ternyata tak selalu mulus seperti yang diharapkan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perforrmance seorang pembelajar bahasa. Salah satu faktor itu adalah monitor.

Istilah monitor berasal dari bahasa Inggris monitor yang artinya layar. Ini adalah sebuah perangkat kasat mata yang terdapat dalam otak kita yang berfungsi layaknya sebuah monitor. Pengaruh fungsi perangkat ini paling besar nampak dalam penampilan seorang pembelajar bahasa ketika dia berbicara. Coba anda ingat-ingat, suatu saat mungkin anda pernah melihat seseorang ragu-ragu untuk mempraktikkan kemampuan berbicaranya dalam bahasa asing padahal sudah dipersiapkan sebelumnya. Atau bahkan anda mengalaminya sendiri ketika anda merasa takut membuat kesalahan dalam pemilihan kosa kata, tata bahasa, pengucapan dan sebagainya. Ini adalah alami sekali karena di sinilah perangkat monitor ini sedang bekerja memantau anda.

Dalam ilmu psikolinguistik, pengkajian ilmu bahasa berkaitan dengan ilmu psikologi, pembelajar bahasa disebut sebagai monitor user(pengguna monitor). Mereka diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu

1. overuser,

2. underuser,

3. optimal user.

Tipe pertama, overuser, adalah orang-orang yang boleh jadi dari segi penguasaan tata bahasa, kosa kata, dan yang lainnya cukup bagus tapi masih ragu-ragu untuk menyampaikan secara oral apa yang dia igin katakan. Sebagai akibatnya, mungkin saja mereka malah tak dapat memproduksi sepatah katapun. Tipe ini identik dengan orang-orang yang memiliki karakter introvert yang cenderung tertutup.

Tipe kedua adalah underuser. Tipe ini ada pada orang-orang yang secara konsep, penguasaan bahasanya kurang; minim pengetahuan tata bahasa dan juga kosa katanya. Tetapi dengan segala keterbatasannya tersebut, mereka tetap memiliki kepercayaan diri yang baik untuk berbicara dalam bahasa yang baru dipelajarinya tanpa ragu-ragu. Beberapa atau malah banyak kesalahan-kesalahan tata bahasa, kosa kata dan sebagainya dia buat tetapi semua itu tidak mempengaruhi dia dalam menyampaikan apa yang ingin dia katakan atau pikirkan. Tipe pengguna monitor satu ini lebih identik pada orang-orang berkarakter ekstrovert.

Sedangkan tipe yang ketiga, yaitu optimal user, sering kita jumpai ketika kita melihat orang-orang yang mampu menyampaikan ide, gagasan ataupun obrolan-obrolan ringan dalam bahasa kedua atau bahasa asing mereka dengan baik. Pembelajar bahasa dengan tipe ini memiliki penguasaan bahasa yang bagus, tidak hanya kaya akan kosa kata, mampu menggunakan tata bahasa yang sesuai, tetapi juga mampu mengorganisasi ide-idenya dengan baik melalui bahasanya tersebut sehingga dia berhasil menggunakan bahasanya secara optimal.

Setelah mengetahui tipe-tipe tersebut diatas, cobalah menidentifikasi tipe manakah yang sesuai dengan anda? Tipe yang bagaimana yang anda inginkan? Bagaimana usaha anda untuk mewujudkan keinginan anda? Siapapun dan tipe apapun anda, sebaiknya anda selalu ingat bahwa bahasa apapun memiliki fungsi komunikatif , untuk menyampaikan ide, pikiran, gagasan dan apapun yang anda ingin sampaikan pada orang lain untuk dimengerti dan mendapatkan apa yang anda inginkan. (roe)

Tuesday, April 15, 2008

Bagaimana Memulai Menulis

Bagaimana Memulai

Banyak yang ingin menulis ke media tapi bingung bagaimana memulainya. Ada dua cara:

1. Mempelajari teori menulis baru praktik;
2. Learn the hard way atau menulis dulu teori belakangan.

Terserah kita mana yang lebih enak dan nyaman. Tapi, berdasarkan pengalaman beberapa penulis di India yang tulisannya sudah banyak dimuat di media, alternatif kedua tampaknya lebih bagus. Rizqon Khamami, Zamhasari Jamil, A. Qisai, Tasar Karimuddin, Beben Mulyadi, Jusman Masga, Irwansyah, dan lain-lain semuanya belajar menulis dengan langsung mengirim tulisannya. Bukan dengan belajar teori menulis lebih dulu.

Saya sendiri merasa alternatif kedua lebih enak. Ini karena kemampuan daya serap saya terhadap teori sangat terbatas. Saya pernah mencoba belajar teori menulis. Hasilnya? Pusing. Bukan hanya itu, bahkan dalam belajar bahasa Inggris pun, saya cenderung langsung membaca buku, koran atau majalah.

Sulitkah Menulis?

Sulitkah menulis? Iya dan tidak. Sulit karena kita menganggapnya sulit. Mudah kalau kita anggap “santai”. Eep Saifullah Fatah, penulis dan kolomnis beken Indonesia, mengatakan bahwa menulis akan terasa mudah kalau kita tidak terlalu terikat pada aturan orang lain. Artinya, apa yang ingin kita tulis, tulis saja. Sama dengan gaya kita menulis buku diary. Setidaknya, itulah langkah awal kita menulis: menulis menurut gaya dan cara kita sendiri. Setelah beberapa kali kita berhasil mengirim tulisan ke media — dimuat atau tidak itu tidak penting– barulah kita dapat melirik buku-buku teori menulis, untuk mengasah kemampuan menulis kita. Jadi, tulis-tulis dahulu; baca teori menulis kemudian.

Topik Tulisan

Topik tulisan adalah berupa tanggapan tentang fenomena sosial yang terjadi saat ini. Contoh, apa tanggapan Anda tentang bencana gempa dan tsunami di Aceh? Apa tanggapan Anda seputar pemerintahan SBY? Apa tanggapan Anda tentang dunia pendidikan di Indonesia? Dan lain-lain.

Sekali lagi, usahakan menulis sampai 700 kata dan maksimum 1000 kata. Dan setelah itu, kirimkan langsung ke media yang dituju. Jangan pernah merasa tidak pede. Anda dan redaktur media tsb. kan tidak kenal. Mengapa mesti malu mengirim tulisan? Kirim saja dahulu, dimuat tak dimuat urusan belakangan. Keep in mind: Berani mengirim tulisan ke media adalah prestasi dan mendapat satu pahala. Tulisan dimuat di media berarti dua prestasi dan dua pahala. Seperti kata penulis dan ustadz KBRI, Rizqon Khamami.

Rendah Hati dan Sifat Kompetitif

Apa hubungannya menulis dengan kerendahan hati? Menulis membuat kita menjadi rendah hati, tidak sombong. Karena ketika kita menulis dan tidak dimuat, di situ kita sadar bahwa masih banyak orang lain yang lebih pintar dari kita.

Nah, menulis dan mengirim tulisan ke media membuat kita terpaksa berhadapan dengan para penulis lain dari dunia dan komunitas lain yang ternyata lebih pintar dari kita yang umurnya juga lebih muda dari kita. Di situ kita sadar, bahwa kemampuan kita masih sangat dangkal. Kita ternyata tidak ada apa-apanya. Ketika kita merasa tidak ada apa-apanya, di saat itulah sebenarnya langkah awal kita menuju kemajuan.

Kita juga akan terbiasa menghargai orang dari isi otaknya bukan dari umur atau senioritasnya apalagi jabatannya.
Di sisi lain, membiasakan mengirim tulisan ke media membuat sikap kita jadi kompetitif. Sekedar diketahui, untuk media seperti KOMPAS, tak kurang dari 70 tulisan opini yang masuk setiap hari, dan hanya 4 tulisan yang dimuat. Bayangkan kalau Anda termasuk dari yang empat itu. Itulah prestasi. Dan dari situlah kita juga belajar menghargai prestasi dan keilmuan serta kekuatan mental juara seseorang.

It’s your choice: you are either being a loser or a winner. Being a loser is easy. Just sit down in the chair, behind your desk. And feel comfort with your hallucination of being “a great guy” which is actually not, as a matter of fact.

Sumber: www.fatihsyuhud.com

A Special Morning

Friday, 15 February 2008

Setiap hari adalah waktu yang sangat berharga bagi aku, Haqqy, dan Malika. Sayangnya waktu berlalu begitu cepat,meski tetap ada 24 jam sehari tapi ternyata masa cuti yang sudah lewat belum cukup bagi kami untuk mengisinya dengan berbagai hal yang bermakna. Sampai hari ini masa cutiku tinggal satu bulan sembilan hari dan aku harus kembali kerja tangal 27 Maret depan. Semoga tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki segala kekuranganku sebagai ibu bagi HQ sepanjang waktu yang telah aku tinggalkan.

Mulai kemarin aku membuat jadwal khusus untuk HQ, belajar bersepeda roda dua yang sama sekali belum dia kuasai. Untuk keterampilan yang satu ini HQ memang sangat kurang. Jangankan roda dua, roda tiga pun dia tak mau mencoba mengayuh pedalnya. Dia lebih memilih berjalan sambil naik di atas dudukannya. Dulu ketika mengetahui dia tak mau mencoba, kami masih berharap dia mau mencobanya untuk sepeda roda duanya kelak di kemudian hari. Tapi ternyata saat ayahku, kakek HQ, membelikannya sebuah sepeda second, lengkap dengan roda latihannya, yang lumayan masih bagus menurutku, dia tetap menolak belajar. Dia malah lebih suka menuntunnya sambil berlari. Lucu sekali memang, begitu kami berkomentar saat itu. Kami sekeluarga terus memotivasi dia untuk belajar mengayuhnya tapi kami tak pernah berhasil. Pelan namun pasti hal ini terabaikan. Hingga kami bertiga, HQ, suamiku, dan aku, pindah ke rumah kami sendiri pun, kami belum begitu tersadar jika hal ini bisa jadi kendala baginya. Hanya sesekali saja kami mengingatkannya tanpa pernah meluangkan waktu khusus untuk melatihnya.

Setahun kemudian, ketika tiba masa penerimaan rapor sekolah HQ (TK A) tanggal 23 Januari 2008 kemarin, giliran kami yang benar-benar diingatkan. Ustadzahnya menuliskan pada segmen perkembangan fisik motorik "... Mas Haqqy belum mampu bersepeda roda dua ....". Reaksi pertama kami adalah menunjukkan dan membacakan kutipan rapor itu pada HQ dan dia tersenyum malu-malu dengan manja mengakuinya. Saat itu aku dan suami belum juga berpikir untuk melatihnya secara intensif. Kami berempat sedang melewatkan liburan HQ di rumah orang tuaku waktu itu. Beberapa hari kemudian aku baru terpikir untuk membawa sepeda roda dua HQ yang terlantar di gudang belakang rumah itu ke rumah kami, tentu saja harus dibersihkan terlebih dahulu. Setelah menyampaikan keinginanku itu pada ayahku, beliau kemudian berinisiatif untuk memperbaikinya sekalian dan ternyata memang ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki karena tak terawat sekian selama lebih dari dua tahun. Akhirnya kami memutuskan untuk membawanya ke bengkel dekat rumah. Dan, sepeda itu kini nampak lebih baik dengan sentuhan cat baru di bagian depannya. Sepertinya HQ tak begitu tertarik seperti harapanku dan ayahku. Dia nampak gembira sesaat, menuntun dan mencoba menaikinya di jalanan depan rumah sebentar lalu membawanya pulang dan meniggalkannya tergeletak lagi. Keesokan harinya, dengan dukungan ayah, ibu, dan aku, dia mau mencoba kembali. Kali ini dia bersama Oya, teman sebayanya yang sudah terlebih dahulu bisa meski dulu mereka memulainya bersama dengan sepeda roda tiga mereka masing-masing. Perkembangan yang cukup signifikan, menurutku, meskipun waktu berlatih mereka hanya sebentar dan kemudian HQ meninggalkan sepedanya di mana pun dia bermain. Aktifitas baru itu berlangsung hanya beberapa hari selama kami liburan. Bagaimanapun responnya, aku merasa senang karena paling tidak dia sudah memulai "langkah pertamanya".

Sepulang kami dari liburan itu, langkah pertama HQ sempat terhenti. Beberapa hari setelah kepulangan kami, aku menyampaikan pada suamiku bahwa kami akan mencoba berbagi waktu untuk anak-anak. Aku memintanya untuk meluangkan waktu paginya untuk mendampingi HQ belajar sepeda sementara aku merawat bayi kami, Malika. Namun, mungkin kesibukan dan kelelahannya akhir-akhir ini membuat dia kadang lupa melakukannya. Sadar atau tidak, aku dan suamiku harus mengakui bahwa ternyata kami sering terlena oleh kesibukan kami masing-masing. Sedikit sekali waktu yang kami punya untuk HQ. Apalagi untuk mendampinginya dalam beberapa aktifitasnya. Ironis sekali. Maafkan bunda, sayang. Selalu ada esok untuk setiap asa. Kemarin aku mencoba mengingatkan suamiku kembali akan hal itu dan alhamdulillah dia memahaminya dan semoga menjadi awal yang baik bagi kami; aku, mas Yanoe, HQ, dan Malika.

Seperti kemarin, pagi hari setelah sholat shubuh, mas Yanoe membangunkan HQ untuk bersih diri dan mulai berlatih mengendarai sepeda roda duanya sementara aku merawat Malika. Awalnya HQ nampak ogah-ogahan namun akhirnya dia bangun juga. Sepertinya memang harus memulai kembali dari awal. Mendengar kata sepeda baginya seperti beban. Dan, ternyata benar ketika dia mulai belajar mengayuh sepedanya dengan menggunakan roda latihan yang tinggal sebelah kanan, banyak sekali keluhan dari bibirnya yang mungil itu. Hanya beberapa meter saja sepanjang jalan di depan rumah nampaknya dia merasa tidak nyaman. Tak lama kemudian ia pulang dengan muka masam. Ketika aku tanya suamiku apa yang terjadi, dia bilang HQ capek. Dan, dengan wajah hampir menangis HQ pun mengeluh capek. Kami mungkin tidak bersikap arif ketika kami memberi gambaran semangatnya ketika dia bermain dibandingkan dengan ketika dia belajar bersepeda. Sebagai akibatnya dia malah menangis dan ngambek. Sepertinya belajar bersepeda adalah beban baginya. Aku dan suamiku hampir kehilangan ide bagaimana membuatnya tertarik untuk belajar bersepeda. Mulai dari cerita hingga iming-iming hadiah. Belum ada yang berhasil. Kami putuskan untuk memulainya lagi keesokan harinya, pagi inilah saatnya.

Semalam aku telah membuat kesepakatan dengan HQ bahwa setiap pagi seusai bangun tidur dan bersih diri adalah waktu baginya untuk berlatih bersepeda. "... Aku mau sama bunda ....", dia mengajukan syarat bahwa pagi ini giliranku yang mendampinginya. Aku menyetujuinya dan pagi ini pun aku membangunkannya. Kali ini tak sesulit kemarin. Sempat dia berusaha menolak tapi aku ingatkan lagi ia akan kesepakatan kami semalam. Sekitar jam lima lebih, kami keluar rumah. Hari masih agak gelap. Aku bukakan pintu pagar dan ia menuntun sepedanya keluar. Aku menentukan rute yang akan kami lewati, satu putaran setengah blok perumahan tempat kami tinggal. HQ mulai mengayuh sepedanya dengan bertumpu pada roda latihan yang tinggal sebelah kanan sehingga sepedanya miring ke kanan juga. Mengayuhnya pun setengah-setengah dengan menggunakan kaki kirinya. Aku biarkan saja dia melakukan tahapan ini meski mungkin tak lazim. Sejak kecil memang HQ cenderung lebih memanfaatkan kaki kirinya untuk beberapa gerakan yang memerlukan kekuatan lebih sementara orang lain menggunakan kaki kanan mereka. Menurutku tak masalah asal dia berhasil melakukannya. Bersepeda pun demikian. Lagi pula pagi ini aku hanya ingin mengajaknya untuk merasakan bahwa bersepeda itu tak sesulit yang dia bayangkan dan bahwa dia pun mampu melakukannya dengan baik suatu saat nanti. Sepanjang jalan yang kami lewati, banyak sekali celoteh khasnya yang seringkali menggelikan dan bahkan kadang sengaja mengalihkan perhatianku dari acara latihan bersepeda kami pagi ini. "...pantatku sakit loh, Nda.", "Aduh, kakiku sakit loh....", beberapa kali keluhan keluar dari mulutnya ketika aku membetulkan posisi kakinya atau menunjukkannya cara yang semestinya tapi aku terus mengingatkannya untuk tetap bersemangat. HQ nampak merasa bisa mengayuh sepeda itu dengan caranya. Rasa senangnya bisa terbaca dari mimik dan celotehannya. Ini membuatku merasa lega. Dia tak nampak lagi terbebani dengan aktifitas yang satu ini.

HQ terus berusaha mengayuh setengah-setengah sepedanya meski terseok-seok dan miring ke kanan karena roda latihan yang menjadi tumpuhannya tinggal sebelah dan harus menahan berat badannya yang lumayan, kurang lebih 32 kg. Dia nampak antusias sekali dan merasa berhasil karena kami sudah melalui tiga perempat putaran yang telah aku tentukan. Sesekali kami berhenti atau menepi karena ada mobil atau pengendara sepeda motor yang melintas. Dalam hati aku bersyukur aku dan HQ bisa melewati pagi ini bersama. Kegembiraanku hari ini semoga menjadi kegembiraan HQ juga.

Tinggal seperempat putaran lagi menuju rumah, HQ nampak lelah tapi tak aku dengar keluhan capeknya. Sayangnya suasana pagi ini ternoda ketika kami melintas di depan sebuah rumah. Seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil keluar untuk mengantarkan anak tertuanya naik ke sebuah mobil antar jemput. Aku tidak mengenal ibu itu karena aku termasuk orang baru di perumahan ini dan nampaknya dia cuek saja. Aku terus memandu HQ mengayuh sepedanya hingga sampai pada jarak sekitar lima meter arah meninggalkannya ketika aku mendengar ucapannya yang keras, "Hi hi ... itu loh sepeda roda tiga. Rodanya tinggal satu." Aku tak begitu memperhatikannya dan terus mendampingi HQ ke arah semakin menjauh. Begitu kami melewati kira-kira dua rumah dari tempat ibu itu berdiri, tiba-tiba terdengar suaranya lebih keras lagi dengan nada yang terdengar tidak enak di telinga. "Kakinya diturunkan satu gitu loh,mas.", "Kaki kirinya diturunkan.", "... kalo gitu ga bisa-bisa.", "... itu sepedanya miring ke kanan, kebesaran badan.", dan masih beberapa kalimat lagi yang aku tak ingat betul. Mungkin maksud orang ini baik tapi caranya kurang tepat apalagi sambil teriak dari jarak jauh begitu. Dari tempat aku dan HQ berdiri, aku memberitahunya sambil tersenyum, "Anak saya memang belum bisa dan masih bisa menggunakan kaki kirinya saja." Aku pikir dia mengerti maksudku dan sadar akan sikapnya tapi ternyata dia malah mengulang satu atau dua kalimat yang senada. Akhirnya aku dan HQ berlalu. Ada rasa kesal dalam hatiku pada ibu itu dan tak sadar itu mempengaruhi caraku membimbing HQ. Cepat-cepat aku mengajak HQ berlalu dan menyelesaikan rute yang tersisa namun tiba-tiba kata-kata HQ menyadarkanku,"Hei hei sebentar Bunda, aku masih semangat." Astaghfirulloh, maaf ya HQ, bunda yang salah terlalu terpengaruh omongan ibu itu tadi. Sejurus kemudian aku kembali fokus pada latihan HQ hari ini. Aku merasa bersalah menodai kegembiraan kami pagi ini. Sementara itu, dengan wajah ceria dia tetap berusaha mengayuh sepedanya yang terseok-seok dengan caranya yang menurut orang lain aneh hingga sampai depan rumah kami. Perasaan puas jelas tergambar dari sikapnya ketika turun dari sepedanya dan menuntunnya memasuki garasi rumah kami.

Pagi yang luar biasa bagiku. Banyak hal yang aku pelajari pagi ini; kebersamaan dengan HQ dan penerimaan yang tulus. Thanks Alloh for this special morning.